BUMI WAKAF

Metodologi Skor

Halaman ini menjawab pertanyaan yang pasti muncul: “angka 87 itu dari mana?”

Indikatif — belum disahkan
Tiga aturan yang mengikat
  1. 1Skor tidak pernah tampil sendirian. Selalu bersama komponen penyusun, bobot, dan sumber tiap variabel. Tidak ada angka telanjang di mana pun di aplikasi ini.
  2. 2Skor selalu berlabel indikatif. Ini bukan penilaian aset (appraisal), bukan dasar penetapan nilai, dan tidak boleh dipakai sebagai dasar transaksi.
  3. 3Derajat keyakinan ikut ditampilkan. Bidang yang datanya 40% lengkap tidak boleh memberi kesan sama pastinya dengan bidang yang 95% lengkap.

Hitung Sendiri

Ubah nilainya, lihat skornya bergerak. Inilah seluruh rumusnya — tidak ada yang disembunyikan.

Ubah kondisi bidang
Hasil
83/100
Siap dikembangkan
Keyakinan tinggi · 11 dari 11 komponen berdata
A1Status sertifikat18/18
Bersertifikat sejak 2020Berkas Kemenag
A2Kejelasan nazhir5/10
Perseorangan · AktifBerkas Kemenag
A3Bebas sengketa7/7
Tidak ada catatan sengketaSurvei lapangan
Yang perlu dibereskan
  • Nazhir perseorangan — dorong peralihan ke badan hukum
  • Kesediaan nazhir bermitra belum ditanyakan
  • Keterangan penggunaan belum tercatat

Skor bersifat indikatif. Bobot belum disahkan secara metodologis — lihat halaman Metodologi. Lihat metodologi

Indeks Kesiapan Wakaf

Menjawab: kalau mau dikembangkan sekarang, seberapa siap? Skala 0–100, 11 komponen dalam empat pilar.

ALegalitas
35/100
  • A1Status sertifikatmaks 18
    Bersertifikat 18 · Proses 9 · AIW saja 5 · Belum 0
  • A2Kejelasan nazhirmaks 10
    Badan hukum 10 · Organisasi 8 · Perseorangan aktif 5 · Tidak diketahui 0
  • A3Bebas sengketamaks 7
    Tidak ada catatan sengketa 7 · Ada indikasi 0
BFisik & Akses
25/100
  • B1Luas memadaimaks 8
    ≥1 Ha 8 · ≥5.000 m² 7 · ≥2.000 m² 5 · ≥1.000 m² 3 · <1.000 m² 1
  • B2Aksesibilitas jalanmaks 9
    Arteri/kolektor 9 · Lokal aspal 7 · Lingkungan 4 · Setapak 1
  • B3Utilitas (listrik & air)maks 5
    Listrik & air 5 · Salah satu 3 · Tidak ada 0
  • B4Kondisi fisik lahanmaks 3
    Siap bangun 3 · Pematangan ringan 2 · Pematangan berat 0
CTata Ruang & Kelayakan
20/100
  • C1Kesesuaian RTRWmaks 12
    Sesuai RTRW 12 · Perlu kajian 6 · Bertentangan 0
  • C2Potensi ekonomi lokasimaks 8
    Dihitung dari kepadatan penduduk sekitar
DKelembagaan
20/100
  • D1Status pemanfaatan saat inimaks 10
    Belum dimanfaatkan 10 · Sebagian 6 · Penuh non-produktif 3 · Penuh produktif 0
  • D2Kesiapan nazhir bermitramaks 10
    Bersedia 10 · Terbuka 6 · Belum ditanya 3 · Menolak 0
Kategori
75–100
Siap dikembangkan
Bisa masuk pipeline kemitraan sekarang
50–74
Perlu persiapan
Ada 1–3 hal yang harus dibereskan dulu
0–49
Belum siap
Perlu penanganan mendasar, biasanya legalitas
Derajat keyakinan

Dihitung terpisah dari skor, berdasarkan berapa dari 11 komponen yang datanya benar-benar ada. Aturan tegasnya: komponen tanpa data diberi nilai nol, bukan nilai tengah. Memberi nilai tengah pada data yang tidak ada sama dengan mengarang, dan itu akan ketahuan.

10–11 komponen
Tinggi
7–9 komponen
Sedang
3–6 komponen
Rendah
0–2 komponen
Tidak dihitung

Skor Potensi Pemanfaatan

Berbeda dari indeks kesiapan. Kesiapan satu angka per bidang; potensi satu angka per jenis pemanfaatan.

Enam variabel
  • V1Luas lahanBerkas Kemenag / survei
  • V2Akses jalanSurvei lapangan
  • V3Kepadatan pendudukBPS tingkat desa (belum tersambung)
  • V4Jarak fasilitas sejenisSurvei + POI peta
  • V5Kesesuaian RTRWRTRW daerah (belum tersambung)
  • V6Utilitas tersediaSurvei lapangan
Profil bobot per jenis pemanfaatan (%, tiap baris berjumlah 100)
JenisV1V2V3V4V5V6
Pendidikan20202520105
Kesehatan15252520105
Pertanian3510553015
Peternakan30155103010
Perkebunan4010553010
UMKM102530151010
Perdagangan15303010105
Pariwisata25201020205
Hunian20202015205
Pesantren30151520155
Energi3015553015
Dua variabel sengaja dibalik untuk jenis tertentu. Untuk pertanian, peternakan, dan perkebunan, kepadatan penduduk tinggi justru menurunkan kecocokan (keberatan warga, baku mutu lingkungan). Untuk pendidikan, kesehatan, UMKM, dan perdagangan, jarak jauh dari fasilitas sejenis justru menaikkan skor — artinya belum ada yang melayani.

Skor di bawah 40 tidak ditampilkan sama sekali. Daftar panjang berisi pilihan buruk hanya bikin bingung. Dan bidang yang belum disurvei tidak diberi skor apa pun — statusnya “belum dapat dinilai”, yang artinya berbeda dari “sudah dinilai, hasilnya rendah”.

Batasan yang Harus Disebut

Empat hal yang tidak boleh disembunyikan dari siapa pun yang memakai angka ini.

Bobot belum disepakati

Angka-angka di halaman ini adalah usulan penyusun sistem, bukan hasil kesepakatan Kemenag atau BWI. Perlu lokakarya metodologi bersama ahli wakaf dan perencana wilayah sebelum dipakai untuk keputusan.

Sebagian variabel belum punya sumber data

Kepadatan penduduk tingkat desa, jarak ke fasilitas sejenis, dan kesesuaian RTRW belum tersambung ke sumber resmi. Sampai tersambung, komponen itu dihitung sebagai 'tanpa data' — bernilai nol, bukan diberi nilai tengah.

Tidak memperhitungkan nilai tanah

Ini disengaja. Memasukkan ZNT atau NJOP ke dalam skor akan mengubah alat perencanaan jadi alat spekulasi, dan itu bertentangan dengan sifat wakaf. Nilai tanah boleh ditampilkan terpisah, tidak masuk skor.

Tidak memperhitungkan maksud wakif

Ini batasan paling serius. Banyak wakaf punya ikrar yang mengikat peruntukannya. Skor potensi tinggi untuk perdagangan tidak berarti apa-apa kalau ikrarnya menyebut pesantren. Sistem menandai bidang yang ikrarnya membatasi, tetapi pengalihan peruntukan (istibdal) punya aturan syariah dan hukumnya sendiri — dan itu bukan wewenang sistem ini.

Rencana pematangan
  1. 1Lokakarya metodologiBersama Kemenag, BWI, ahli wakaf, dan perencana wilayah → bobot disepakati
  2. 2Uji retrospektifDiuji pada aset wakaf produktif yang sudah berjalan — apakah skor tinggi memang berkorelasi dengan keberhasilan
  3. 3Sambungkan sumber resmiBPS, RTRW daerah, POI → derajat keyakinan naik ke Tinggi
  4. 4Tinjauan berkalaTiap tahun, menyesuaikan kebijakan yang berlaku

Sampai tahap 1 selesai, setiap skor di aplikasi membawa keterangan “Bobot indikatif, belum disahkan secara metodologis.”

Pertanyaan soal angka? Lihat juga dari mana data mentahnya berasal